MASFM
 
blank
Bedah Buku

TRANS PONDEKS MESIN CINTA LINTAS WAKTU
2007-04-15 | 08:52:32
Dalam buku karya Ronny Fredillah ini ini diucapkan “Selamat Datang untuk anda di dunia penuh misteri. ” Novel ini bercerita tentang penelitian seorang doktor, profesor yang punya.........

HIDUP ITU KADANG LUCU
2007-04-09 | 23:14:58
Buku karya ROMO SIEGFRIED ZAHNWEH,SJ ini berisi refleksi singkat dari rangkuman kejadian yang dialami penulisnya, dan tentunya sangat bermakna untuk dipahami. ...

MALANG TEMPO DOELOE
2006-06-27 | 12:26:08
Sebuah buku yang memotret dan menceritakan keadaan Malang pada masa sejarah kerajaan sampai masa kolonial, dengan data-data yang dikumpulkan mempunyai validitas tinggi, dengan gaya bahasa yang.........

BUKAN PUTERI ANGSA
2006-01-02 | 14:06:10
Sebuah karya ERNEST JK WEN...

JAKARTA UNDERCOVER
2004-12-14 | 13:33:03
Penyiar, :Saraswati, Narasumber : Muammar Emka (penulis) Dedi Utomo (pengamat sosial ) Jakarta Undercover: Sex On the city, karangan Muammar Emka merupakan satu dari sekian buku yang.........


1

JAKARTA UNDERCOVER
2004-12-14
13:33:03

Fandy




Penyiar :
“Selamat pagi, teman Mas FM hangat dan bersahabat. Pagi ini dalam interaktif Malang Raya bersama saya Saraswati. Telah hadir disini pengarang buku Jakarta undercover, Muammar Emka dan Dedi Utomo. Bagaimana buku ini sebenarnya menurut pak Dede?”0
Pak Dede :
“Buku ini langka. Justru karena buku ini ringan dan lugas, tapi bahasanya slengean dan centil. Menunjukkan sekelumit 24 episode fenomena seksualitas yang bertempat di Jakarta.”
(PN) :
“Oke, kalau anda sendiri sebagai ketua Gaya Nusantara melihat buku ini bagaimana selain fenomena yang spesial tadi?”
(PD) :
“Kami sih, merasa senafas,ya? Karena apa yang saya kerjakan di Gaya Nusantara dan sebelumnya Lamda Indonesia kan membuka ruang wacana, supaya orang bisa ngomong mengenai seksualitas yang umumya ditempat kita itu orang ngomongnya bisik-bisik, jawil-jawil di gelap-gelap, remang-remang. Kenapa kita nggak bisa ngomonginnya seperti kita ngomongin yang lain? Ngomongin misalnya lalu lintas, tentang bahasa, tentang agama. Ini bagian penting dari kehidupan manusia.”
(PN) :
“Kalau menurut anda seks itu apa, sih?”
(PD) :
“Seks sendiri sebenarnya sederhana. Ketika dua atau lebih tubuh manusia bertemu dan merasakan kontak tubuh. Kualitasnya lebih menarik sebenarnya. Kan itu diatur oleh masyarakat, ada yang dilarang ada yang didorong-dorong. Nikah misalnya, didorong-dorong sampai habis. Wedding industry itu besar,lho!”
(PN) :
“Menurut anda seks itu hak semua orang, ya?”
(PD) :
“Seksualitas itu hak semua orang dan hak berarti juga orang boleh kadang-kadang menunggu dulu kalau nggak mau nikah atau dia nggak nikah, dia cuman pacaran aja. Itu persoalan yang harus diatur sendiri atau kalau terlalu lama kita diaturkan oleh kekuatan-kekuatan besar. Sains kadang-kadang sok ngatur juga, terutama sains yang eksak ya, punya wajah seakan-akan dia itu netral. Tapi nggak lo sebetulnya.”
(PD) :
“Nah, tadi malam kita ketemu seorang waria yang tiap malam tujuh belas kali targetnya. Sampai dia bilang saya kan KPADnya kota malang. Punya target, tujuh belas kali semalem.”
(PN) :
“Mereka ngeliatnya dari sisi apa, ya?”
(PD) :
“Sebagian perut, sebagian kenikmatan, sebagian lagi gaul.”
(PN) :
“Mas Emka cerita dong, awalnya kemarin kalau saya denger mas Emka wartawan porno,ya?”
Emka :
“Iya, enam tahun nulisnya tentang seks terus, mentok-mentoknya entertainment. Akhirnya ya nggak jauh dari seks, enam tahun akhirnya predikat itu melekat. Tapi biarin, yang penting nggak nulis pornografi. Dalam buku Jakarta Undercover emang nyaris nggak ada penulisan pendeskripsian adegan seks secara vulgar. Isunya dikupas secara telanjang, tapi adegannya nggak.”
(PN) :
“Kalau dilihat latar belakangnya religius sekali, ya. Kok juntrungannya nulisnya begini. . .”
(EM) :
“Justru itu uniknya. Dengan background yang agamis, tiba-tiba ketika jadi wartawan masuk ke dunia yang sama sekali beda. Saya menemukan perilaku seks sebagian masyarakat yang nyeleneh. Seperti tukar kelamin party.”
Ine, belimbing:
“Buku ini banyak menjadikan perempuan sebagai objek. Sebenernya bagaimana maksud mas emka dengan menulis buku ini? Apakah perempuan memang cukup baik dijadikan objek? Dan untuk pak dedi sendiri apakah buku ini baik untuk perempuan.”
(EM) :
“Kalau mau jujur, mestinya ini bisa menjadi potret untuk perempuan. Dimana perempuan dijadikan campaign main course. Di sisi lain yang dagang bukan cuma laki-laki. Sebagian besar yang membawahi bisnis perempuan adalah perempuan. Miris sebenernya. Ada satu realitas, di tempat hiburan ada display perempuan, dimana orang bisa memilih seperti memilih barang. Potretnya seperti itu.”
(PD) :
“Harus dibedakan antara buku dengan peristiwa. Lebih baik ditulis fenomena begini. Ini harusnya menjadi keprihatinan nasional perempuan. Kalau memang lebih baik dihindarkan, juga susah. ”
(PN) :
“Banyak sekali lembaga perempuan seperti woman crisis center yang berusaha menghilangkan traficking...itu istilah mereka”
(PD) :
“Bener. tapi harus diinvestigasi dulu, apa bener ini traficking. Seperti yang diimpor dari uzbekistan..ternyata sukarela. Feminis di indonesia juga nanggung. Feminis yang sesungguhnya, nggak terlalu anti pelacuran. Dulu waktu jadi dosen saya menjual otak. Kenapa sekarang ada wanita jual tubuh kita teriak-teriak? Tapi yang mengganggu adalah eksploitasi. Saya nggak membela eksploitasi jelas traficking buruk. cuman menyelesaikannya nggak gampang. perlu pengawasan dan sebagainya. Kalau mau bicara harus tahu dulu medannya.”
(PN) :
“Apa buku ini nggak mengeksploitasi?”
(EM) :
“Kalau bahasa saya mengekspos. Mengekspos kehidupan seks sebagai industri, dan menelanjangi seks sebagai lifestyle yang sebagian besar wanita sebagai objeknya. Umur mereka yang memasuki dunia ini bervariasi. Ada yang teenager juga di panti pijat. Bahkan mencarinya harus talentscouting.”
Fif, Letjen Sutoyo :
“Momennya buku ini tepat sekali. Ketika negara kita sedang disibukkan dengan fenomena pencekalan inul,gitu,ya? Mas emka mengeluarkan semacam buku putih yang selayaknya dibaca oleh ahli agama,gitu, ya? Terus pertanyaan untuk mas emka, apa tujuan menulis buku ini? Haruskah seluruh masyarakat di jakarta perlu mengetahui perilaku seks di jakarta?”
(EM) :
“Tujuannya sebetulnya sederhana, agar masyarakat tahu.”
(PN) :
“Mas emka dalam enam tahun reportase, pasti banyak sekali pengalamannya. Mungkin orang yang nggak membaca prolognya, sedikit tersamar sebenarnya mas emka ikut terlibat nggak?”
(EM) :
“Ini kan liputan tuntas. Jadi jujur dalam beberapa kondisi saya mau nggak mau saya harus menjadi pelaku yang baik. Karena apa, ya karena situasinya. Saya dapat apa kalau nggak begitu. Sementara dalam kondisi lain saya cukup jadi pengamat yang baik. Tergantung kondisi dan situasinya saja”
(PN) :
“Ini semacam sex education book gitu, ya?”
(Em) :
“Yah, diharapkan begitu. Yang ringan-ringan aja. Ini bukan ensiklopedia seks book, ya. Kalau lagi butuh aja dibaca.”
(PN) :
“Mas, mungkin nanti wanita dari kota kecil setelah membaca buku ini kemudian berpendapat bahwa di kota besar mudah sekali mencari uang banyak dengan bekerja begitu, bagaimana tanggung jawab sosialnya? Disini anda kan triggernya, pemicunya gitu..”
(EM) :
“Yah, industri itu kan melibatkan orang-orang yang ada di dalamnya. Kalau nanti ada yang tergerak untuk itu ya biarin aja. Dijadikan bahan pemikiran saja. Lagian accessnya sulit.”
(PN) :
“Sejauh ini apa udah ada yang investigasi kemungkinan tempat ini dimana? Seperti aparat?”
(EM) :
”Ah, saya kira aparat sudah tahu sama tahu. Kalau dilarang dari dulu kan sudah nggak ada. Ini lebih mirip simbiosis mutualisme. Saling menguntungkan satu sama lain.”
(PN) :
“Ada rencana nggak untuk mengarang buku. Misalnya Malang undercover begitu?”
(EM) :
“Ada sekali rencana seperti itu. Tapi lebih menyeluruh nggak cuman menengah ke atas. Nggak cuman sex on the city. Tapi lebih ke fenomena gay, lesbi, prostitusi kelas bawah, kelas menengah. Seperti saya bilang ini belum cover semua.”
(PN) :
“Akhirnya kita sampai pada ujung perbincangan buku Jakarta Undercover: Sex on the city. Akhirnya saya Saraswati yang pagi ini memandu harus undur diri dan permisi.”

© 2008   "fun_dee"   all right reserved