MASFM
 
UB
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

MAHASISWA BRAWIJAYA TELITI KECOAK SEBAGAI DETEKTOR BOM
2008-02-03 | 22:56:42
Dalam mengikuti Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) XX di Universitas Lampung, mahasiswa Brawijaya meneliti kecoak. ...

SUKSES MENIRU dan MENJIPLAK
2004-05-29 | 09:15:15
Meniru, mengapa tidak? Memang apa salahnya dengan meniru? ...


1

MAHASISWA BRAWIJAYA TELITI KECOAK SEBAGAI DETEKTOR BOM
2008-02-03
22:56:42

Masalah terorisme saat ini menjadi perhatian para pemimpin negara di dunia dan masyarakat umum. Aksi teror yang sering dilakukan adalah teror bom yang memiliki daya hancur besar dan berdampak psikologis yang besar. Kasus teror bom memerlukan antisipasi sejak dini, terutama di tempat yang diduga menjadi target misalnya, gedung pemerintahan, kedutaan besar, hotel, pusat pembelanjaan, ataupun tempat peribadatan. Salah satu alat untuk mengantisipasi adanya tindakan ledakan bom yaitu dengan detektor yang berfungsi memberikan informasi keberadaan bom atau bahan peledak lain.

Pelacak bom terbaik yang ada sangat rumit, mahal dan terkadang tidak praktis. Saat in telah dikembangkan metode baru untuk mendeteksi keberadaan bom dan bahan peledak lainnya, yaitu menggunakan serangga. Melihat potensi yang dimiliki serangga dalam mendeteksi bom, tiga orang mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya dari program studi ilmu hama dan penyakit tumbuhan serta sosial ekonomi yaitu Imam Dwi Cahyo, Marcellinus Alfasisurya dan Ermah Fachriyani dalam karya ilmiahnya yang berjudul “Potensi Kecoak (Blatta orientalis L.) sebagai Detektor Bom”. Penelitian ketiga orang mahasiswa itu berhak mengikuti ajang PIMNAS 2007 yang akan berlangsung di Lampung.

Terungkap dalam karya tulis, kecoak (Blatta orientalis L.), memiliki alat indra yang mampu melacak keberadaan suatu bahan kimia. Kecoak merupakan salah satu jenis serangga yang berfungsi sebagai sensor biologi khususnya untuk bom dan bahan peledak lainnya. Dibandingkan lebah, reproduksi kecoak sangat cepat dan banyak, memiliki ukuran tubuh yang relatif besar, penyebarannya luas dan umurnya relatif lama. Sebagaimana umumnya struktur tubuh serangga, tubuh kecoak yang keras tertutupi oleh struktur seperti rambut halus yang disebut sensilia. Struktur tersebut memiliki banyak fungsi antara lain sebagai sensor mekanis, suhu dan kimiawi. Antena pada tubuh kecaoak memilki tiga bentuk yaitu Trichoida, Basiconic dan Coeloconic. Diantara ketiganya, yang paling peka terhadap bahan kimia adalah Basiconic.

Informasi kimiawi yang diterima sensilia dari udara ditangkap oleh neuron reseptora penciuman yang terdapat di lapisan bagian dalam dari sensilia setelah kutiakula. Sensilia pada serangga yang memiliki satu poridisebut uniporous sensilia, sedangkan yang memiliki lebih dari satu pori disebut multiporous sensilia yang memiliki lebih dari satu neuron reseptor penciuman per sensilia. Neuron reseptor merupakan sebuah transduser biologis yang mampu mengubah berbagai macam energi seperti energi cahaya, suhu, kimiawi dan mekanis tergantung pada jenis neuronnya. Neuron menerima energi dari lingkungan sekitar sehingga menyebabkan serangga mampu membedakan berbagai bau yang ada di udara.

Serangga mampu melakukan beberapa jenis pembelajaran mulai dari yang paling sederhana sampai yang paling compleks. Ada tiga jenis proses pembelajaran yang dapat dilakukan oleh serangga yaitu habituasi atau pembiasaan, pembelajaran asosiatif, dan pembelajaran eksplorasi. Salah satu teknik pembelajaran yang umum yang digunakan pada binatang adalah teknik Pavlov (1927).

Ketiga peneliti muda itu tertarik pada kecoak sebagai pendeteksi bom karena kecoak dapat merespon stimulus kimiawi secara cepat dikarenakan sel sensorik dan motorik yang berkembang dengan baik. Kecoak dalam evolusinya mengembangkan dua system senso-motorik yang indipenden. Sel sensorik menangkap rangsangan berupa zat kimia serta dapat menyebar pada organ tubuh kecoak seperti antena, palpus, cerci, tarsus, dan ovipositor, meskipun dengan konsentrasi yang sedikit dan jarak yang relatif jauh. Kemoseseptor kecoak (antena, palpus, tarsi, dan cerci) yang peka dan banyak terdapat pada sebagian besar organ tubuhnya, dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi bahan peledak, narkoba bahkan mayat.

Teknik pembelajaran kecoak serupa dengan apa yang dilakukan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat dalam melatih lebah madu untuk mendeteksi bom. Kecoak diberikan stimulus kimia berupa bahan peledak penyusun bom seperti TNT, RDX, PTEN, TATP/Triacentontriperoksida, Tetryl, Asam Pikrat, Amatol, Tritonal, Pentolite, Tetryatol, Pikratol, Amonal, Ednatol, Explosive D, Composition B, HMK, Haleite, PBX, C-4, dan sejenisnya secara konsisten bersamaan adengan pemberian pakan berupa air gula atau biskuit sehingga kecoak akan mengasosiasikan bahan peledak dengan kesempatan untuk mendapatkan air gula atau biskuit.

Kecoak yang telah terlatih mendeteksi bahan peledak penyusun bom ditempatkan pada wadah plastik berlubang dengan desain khusus agar tidak terbang atau lari serta mempermudah pengamatan respon kecoak terhadap rangsangan bahan peledak. Wadah itu kemudian diletakkan ke dalam wadah yang besar yang berisi alat pengamatan aktivitas kecoak. Udara yang mengandung partikel bau dialirkan ke dalam wadah melalui pipa khusus. Setelah udara yang diterima reseptor kimiawi kecoak, serangga itu akan memberikan respon yang dapat diterjemahkan ke dalam bahasa yang sederhana berupa gerakan antena yang ditangkap oleh kamera web. Arah dari gerakan antena menunjukkan
keberadaan atau dugaan adanya bahan peledak. Secara sederhana, aplikasi pemanfaatan kecoak sebagai detektor bom, menggunakan kotak detektor yang didalamnya terdapat sel pemantau khusus untuk mengamati respon kecoak terhadap keberadaan bahan peledak. Kotak tersebut dapat diletakkan di dalam detektor tangan ataupun mobil remote control.

(Disarikan dari karya tulis laman Dwi Cahyo, Marcellinus Alfasisurya, dan Ermah Fahriyani Dalam LKTM bidang IPA tingkat wilayah C 2007)


Artikel ini dikutip dari Tabloid MIMBAR Universitas Brawijaya

© 2008   "fun_dee"   all right reserved